Minggu, 15 Januari 2012

Silaturrahmi

Saat Terakhir
Hampir satu bulan yang lalu saya ingin menuliskan semua peristiwa istimewa yang saya alami. Sebenarnya semua hal yang ada dalam diri saya teramat sepesial untuk disyukuri. Tapat tanggal 5 Desember 2011 lalu saya bersedih saat berada di bandara LCCT Selangor Malaysia, karena harus berpisah dengan Ibu Toyyibah, Iqbal, Abang Zizi dan Abang Alip yang mengantarkanku pagi itu untuk pulang ke Indonesia. Ibu Toyyibah adalah anak dari Atu Sakom yang ke dua sebelum yang bungsu. Atu Sakom adalah yang sulung dari pernikahan mbah Mad Khanapi dan Jazura. Bu Toyyibah sangat penyayang dan lembut.
Hanya beberapa jam saya tidur pada malam terakhir saya Silaturrahmi di Malaysia. Bu Toyyibah dengan nada rendah membangunkan saya pagi itu untuk bersiap mandi. Rasanya teramat lemas dan berat, tapi waktu memang terus menuntutku untuk bangun. Merenung beberapa saat seakan tak percaya harus membuka selimut tebal yang saat itu juga kipas angin berputar di skala tercepat karena suhu panas yang dimiliki negara jiran itu. Usai mandi kembali duduk dan menunggu persiapan keluarga ini untuk siap mengantarkanku. Terasa barat mengeluarkan 1 tas koper, kardus dan tas gendong hijau ku dari dapur rumah. Sebelum masuk mobil, Pak Zul suami Bu Toyyibah banyak berpesan kepada saya, semuanya berisi doa untukku. Tak segan ku peluk Pak Zul yang tak ikut masuk mobil karena beliau tak ikut mengantar. Teringat selalu saat belia selalu menyuruh Iqbal mandi sebelum pergi jamaah di Masjid Al Istiqomah, salaah satu masjid di Kampung Sungai Buaya yang sebagian masyarakatnya adalah keturunan jawa. Begitu disiplin Pak Zul yang asli bangsa Cina ini dalam beribadah, terutama lima waktu selalu Beliau jaga untuk berjamaah. Abang Alip memacu mobil dengan kecepatan diatas sedang, tak lama kawasa Banting sudah ku tinggalkan.
Kupegang tangan Bu Toyyibah seperti Ibuku sendiri. Sedih. Nampak tak banyak cakap seperti biasanya yang keluar dari dalam mobil, mungkin mereka merasakan hal yang sama sepertiku menahan sedih. Saat itu teringat semua aktivitas selama dua belas hariku di negeri orang yang kini sudah kuanggap negeri keduaku karena disanalah saudara – saudaraku banyak tinggal dan menyayangiku. Radio malaysia dengan lagu religi mengiringi putaran roda mobil yang lancar tak berhambatan. Teringat hariku yang malam sebelumnya menginap di tempat Atu Masud. Atu Masud sangat berharap saya bisa menginap untuk yang kedua kalinya. Malam itu setelah saya bermain futsal dengan kawan – kawan badminton abang Zizi, bergegaslah mandi dan diantar lah saya ketempat Wa Masud meskipun sudah lewat jam dua belas maalam. Pintu dibukakan oleh Wa Tum isteri dari wa Masud. Paman Lihun juga keluar untuk menyambut kedatanganku tengah malam itu. Wa Tum mempersilakan masuk, namun karena Beliau faham ketika saya dan paman Lihun masih ingin berbincang, ditinggalkan kami berdua tepat ditangga menuju lantai atas rumah panggung itu. Berbincang lebar dengan Paman Lihun yang merantau ke malaysia sejak lajang waktu itu. Ceritanya dia ilegal memasuki negara kerajaan ini, dia menyusul Atu Sakom yang sebelumnya pulang ke Indonesia seorang diri dan dengan tekatnya dia ingin mengadu nasib di tempat ini.
Mulanya dia bertanya – tanya kepada teman yang biasa pergi ke Malaysia dengan dengan tanpa Paspor. Setelah ditunjukkan tanpa teman dia sampai di KLCC. Menggunakan Train, dia sampai di Selangor dan disambung Taksi, akhirnya tibalah dia ditempat Atu Sakom. Begitu cerita singkat perjalanananya, penuh hambatan dan semangat. Paman Lihun juga tak lupa menanyakan kabar keluarga di Kebumen, juga panjang lebar bercerita tentang Atu Sakom, dan kedua anaknya Noval dan Adit. Sangat senang jika dia telah mendengar kedua anaknya sudah faham tentang bersuci dan batalnya Shalat, tegasnya. Namun terkhir dia pulang ke Indon lebih banyak melihat anaknya Noval lebih banyak bermain. Wajar seorang Ayah khawatir dengan perkembangan anaknya yang ditinggal kedua orang tuanya merantau. Lebih bersemangat ketika dia bercerita tentang kebiasaan Adit putera bungsunya yang lebih rajin dari kakanya. Namun terlihat Paman Lihun kangen dengan kedua anaknya. Paman Lihun berpesan agar saya menjenguk Noval dan Adit di Selang. Malam semakin pagi, badan terasa lemas dan lelah, segeralah saya berbaring di kamar atas. Terlihat langit putih dari kamar, yahh.... kesiangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar